Senin, 10 November 2008

Puisi

NASIB TERCORENG ARANG
berkali-kali kau mengenakan arang di keningku aku selalu menutupinya dengan rambut tetapi angin selalu menyingkapnya dengan kepura-puraan kukatakan alam telah melukiskan nasib menutup diri yang terbuka malunya pada siapa saja, tak terkecuali burung dan batu-batu untuk sekali saja aku telah menekur setelah itu terlalu berat mengangkat wajah karena arang telah menuliskan penyimpangan hidup di keningku: sebuah bangsa kehilangan peradaban kekuasaankah itu sungai-sungai bertuba aku terkesiap penuh muram memetik ketidakmanusiaan di negeri yang mati cinta kasihnya

KEPADA BUKU HARIAN
aku bertemu laut orang-orang menunggu ombak memakan bencana dalam cinta kubiarkan pantai melebar ke sudut hatiku yang tinggal secuil kulihat perahu berlayar membawa jiwa-jiwa pingsan karena tubuhnya telah menjadi negeri yang tiada cinta


suatu hari sepanjang tubuhmu aku bergerak melihat sebuah kota dengan arakan anak-anak kugeserkan diri, ke sudut mengalihkan mimpi malam yang kelam


lihatlah biji kata-kata yang terbuang ke tanah tumbuh seperti semak-semak di sawah terabai menyesakkan dada, tak bisa diharap ular dan serangga berbisa mungkin telah hidup di sana, seperti manusia menyimpan rasa untuk cinta, dengki, dan kuasa kata-kata telah terbantai makna hatinya lalat hijau telah mengubur dengan dengusan penyair-penyair lahir sebagai nisan menangis berhiba-hati teronggok di depan mulut-mulut busuk berbusa-busa selamat malam kefanaan sang pemulung telah menjual kata-kata pada jiwa yang lapar


betapa engkau telah membual hidupku menjadi sobekan kertas diterbangkan angin jatuh ke bumi sebagai debu kuterima sebagai debu Tuhan musim berganti telah menggumpalkan hidupku menjadi tanah maka, jadilah aku bangunan-bangunan manusia memenuhi bumi dengan segala beban hidup



benarkah kata-kata itu telah membangunkanmu jadi penyair kalau ya kutahankan perih luka untuk puisi esok lusa kita tak mungkin terus menggali nasib penggali; selalu di atas ketidaksuan hakikat hidupnya sendiri apalagi di luar diri jadilah tergali hidup penuh kerahasiaan dari cacing hingga permata tapi tidak penuh luka tercangkul karena satu makna: makan hati sendiri kau akan tersenyum bila darah dari aorta puisimu menjadi sungai tempat semua makhluk Tuhan mandi membuang daki sehari-hari selaku manusia kukatakan hidup sehari saja adalah puisi apalagi bertahun-tahun

Tidak ada komentar: