berkali-kali kau mengenakan arang di keningku aku selalu menutupinya dengan rambut tetapi angin selalu menyingkapnya dengan kepura-puraan kukatakan alam telah melukiskan nasib menutup diri yang terbuka malunya pada siapa saja, tak terkecuali burung dan batu-batu untuk sekali saja aku telah menekur setelah itu terlalu berat mengangkat wajah karena arang telah menuliskan penyimpangan hidup di keningku: sebuah bangsa kehilangan peradaban kekuasaankah itu sungai-sungai bertuba aku terkesiap penuh muram memetik ketidakmanusiaan di negeri yang mati cinta kasihnya
KEPADA BUKU HARIAN
aku bertemu laut orang-orang menunggu ombak memakan bencana dalam cinta kubiarkan pantai melebar ke sudut hatiku yang tinggal secuil kulihat perahu berlayar membawa jiwa-jiwa pingsan karena tubuhnya telah menjadi negeri yang tiada cinta
suatu hari sepanjang tubuhmu aku bergerak melihat sebuah kota dengan arakan anak-anak kugeserkan diri, ke sudut mengalihkan mimpi malam yang kelam
lihatlah biji kata-kata yang terbuang ke tanah tumbuh seperti semak-semak di sawah terabai menyesakkan dada, tak bisa diharap ular dan serangga berbisa mungkin telah hidup di sana, seperti manusia menyimpan rasa untuk cinta, dengki, dan kuasa kata-kata telah terbantai makna hatinya lalat hijau telah mengubur dengan dengusan penyair-penyair lahir sebagai nisan menangis berhiba-hati teronggok di depan mulut-mulut busuk berbusa-busa selamat malam kefanaan sang pemulung telah menjual kata-kata pada jiwa yang lapar
betapa engkau telah membual hidupku menjadi sobekan kertas diterbangkan angin jatuh ke bumi sebagai debu kuterima sebagai debu Tuhan musim berganti telah menggumpalkan hidupku menjadi tanah maka, jadilah aku bangunan-bangunan manusia memenuhi bumi dengan segala beban hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar